Tuhan, Saya Jatuh Cinta (2)

Tuhan, Saya Jatuh Cinta

Bapak, Ibuk, Andin sudah betah dan menemukan rumah

Gimana nggak betah kalau kelakuannya tiap hari begitu :3


Anak ini sadar banget lho kalau gimanapun bermain adalah hak. Bukan cuma anak-anak, tapi juga buat orang yang umurnya nyaris 23 dan seharusnya bisa disebut dewasa. Prinsipnya, berhenti bersikap kekanak-kanakan itu perlu, asal tidak perlu berubah dari kanak-kanak. Hahahaa

Sadar juga kalau tiap momen itu penting untuk dijepret dan dicaption :3
Mainan, selfie, mainan, selfie, begitu hidupnya tiap hari, ditambah ngopi. Sok coba nanya psikolog, apa yang perlu lu lakukan kalau lagi stres? Berani taruhan berkali kali lipat gajian, jawabannya adalah SELFIE! kenapa ada hestek selfieforstress di instagram? Ya karena selfie emang beneran bisa ngilangin stres. Trust me!

Kadang mainannya agak intelek juga
 Sok ajak saya ke rumahmu, bilang Ayahmu saya tantang main catur. Kalau si Bapak kalah, anaknya buat saya ya. *mulailapaar* -____________- Gini gini saya pernah jadi juara di kampung saya dulu.

ini di desa Sidomukti, Manyar, baru dua kali saya kesana. Nggak tau kenapa disana saya ngerasa tenang brooo
Coba cari tempat yang ada airnya, pasti ada saya. Hahahaha
Shubuh-shubuh cari saya dan di kosan nggak ada? Sok coba ke pelabuhan
Sabtu / Minggu / Senen pagi nggak nemuin saya? Sok samperin ke dalegan
Antara jam 12 siang sampe jam 4 sore nggak ketemu saya di kota? Sok berangkat ke mangrove di Sidomukti, Manyar. Cek ke jembatan galaunya, kalau ada perempuan berkerudung pegang pancing ya itu saya.

Di postingan SEBELUMNYA, saya cuma bilang saya jatuh cinta tanpa sebut alasannya kan?
Gini, tentang profesi wartawan dulu ya. Saya sempet ngerasa saya nggak boleh lama lama disini, saya harus cepet resign dan cari kerjaan baru.
Tapi, setelah ketemu orang-orang itu, banyak sih sebenernya, tapi saya cerita yang terakhir kemarin (20/9) ajalah, ya pas di Sidomukti, Manyar itu. Tentang curhatan para nelayan yang makin rugi gegara aturan dari bu Susi, pegawai Depo Shell yang terancam di mutasi hingga Bontang atau bahkan dipecat lantaran investor asing yang sudah tak percaya lagi. Saya senang mendengar mereka, tapi bukan hanya saya. Seharusnya, pemerintah juga dengar, publik juga tahu. Caranya, saya harus tetap jadi wartawan demi mereka. Saya nggak perlu jelasin lebih lanjut kan apa maksud saya?

Ada lagi hari ini (21/9), saya bertemu dengan seseorang yang kalau boleh saya memberi dia label sejarahwan atau budayawan. Minat terhadap sejarah sejak kelas 4 SD, padahal saat ini usianya sudah 52 tahun. Sudah miliki TUJUH buku tentang sejarah kota Giri, dan juga telah buat TIGA sketsa batik kota asalnya ini. Komunikasi dengan pemerintah? Sebutlah Disbudparpora. Pernah dilakukannya, lalu tindak lanjutnya? "Ya sudah. Silahkan teliti falsafahnya, buat sketsanya, dan nanti berikan ke kami, tim kami harus mengkajinya lagi. Terus ke tingkat Provinsi, hingga Nasional," begitu kata mereka. Tugas media apa? Terus mendampingi dan mengontrol pemerintah kan?
 Itu sekilas kenapa saya memilih bertahan menjadi wartawan.

Lalu, tentang  jatuh cinta pada diri saya sendiri? Kan sudah saya jelaskan bagaimana saya mengagumi si cantik ini. Hahaa sudah, dari dulu saya memang narsis. Kalau padaMu Tuhan, ya itu tak perlu dipertanyakan.

Kepada Gresik? Ya jawabannya gampang, karena ada kamu. Hahahaaa... Banyak hal, besok-besok saya jelaskan. Selamat malam. Jangan lupa olahraga. Jangan lupa bermain. Jangan lupa bahagia.

Raya Belitung, GKB, 21 September 2015, 07.55 P.M


Leave a Reply